“Mendingan gue vape daripada ngerokok.

“Mendingan gue vape daripada ngerokok.”

“Mendingan gue vape daripada ngerokok,” benarkah lebih baik vape daripada rokok? Beberapa dari teman saya yang tadinya antirokok pun, akhirnya memutuskan untuk vaping. Glamor iklan-iklan maupun standar kekinian yang selalu mengikuti tren tidak luput menginklusi rokok elektrik, atau e-cigarettes, vaporizer. Vaping, lebih sering didengar sebagai kosakata untuk menyebutnya di masyarakat.

Vape merupakan e-cigarettes generasi ketiga, dengan generasi pertama yang berbentuk seperti rokok (cigalike), generasi kedua dengan bentuk pena atau obeng dengan katrid (cartridge) dan kapasitas baterai yang lebih besar, dan sekarang muncul vape sebagai generasi ketiga dengan menggunakan sistem tangki dan mudah dimodifikasi. Popularitas vape memang sedang melonjak tinggi lantaran modifikasi yang bisa dilakukan sangat bervariasi dan maraknya penjualan online semakin memudahkan orang untuk mendapatkan produk-produk vape.

Produk vape mengandung beberapa senyawa, salah satunya nikotin, sebagaimana terdapat pada rokok konvensional, yang merupakan zat yang menimbulkan adiksi seperti heroin, kokain, dan alkohol. Nikotin telah terbukti meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan denyut jantung sehingga dapat berujung pada penyakit jantung maupun gangguan irama jantung.

Selain itu nikotin juga sudah terbukti mengganggu perkembangan otak remaja, yang merusak memori dan atensi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa vape mengandung lebih sedikit bahan kimia dibandingkan rokok konvensional. Namun, mengatakan bahwa “vape lebih aman” adalah pernyataan yang masih bersifat hipotesis dan perlu pembuktian lebih lanjut karena nyatanya, vape bukan alternatif yang sehat dari rokok. Sebagai contoh, studi yang dilakukan PLOS One menemukan bahwa paru-paru mencit yang terekspos asap vape memiliki respons imun yang lebih rendah terhadap bakteri dan virus. Penelitian lainnya yang dilakukan San Diego School of Medicine and Veterans, University of California pun mengonfirmasi hal ini dengan menyebutkan bahwa bakteri MRSA yang terpapar e-cigarettes terlebih dahulu membunuh 25% mencit, sedangkan bakteri MRSA yang tidak terpapar e-cigarettes tidak membunuh satu pun mencit.

20142f062f192feb2fblucigstake-5a7f1

Iklan e-cigarettes yang mengklaim sebagai alternatif rokok. (Sumber: mashable.com) 

Walaupun selama ini klaim yang digunakan oleh pengguna e-cigarettes adalah alternatif untuk perokok yang ingin berhenti, hingga saat ini FDA’s Center for Drug Evaluation and Research belum mengeluarkan pernyataan bahwa e-cigarette adalah metode yang aman/efektif untuk berhenti merokok. Lela Amelia, Kepala Sub Bidang Pengawasan Rokok BPOM, sebagaimana dilansir Antara News pada 3 Maret 2015, juga menyatakan kekhawatirannya terhadap rokok elektrik dan BPOM sudah mengajukan draft kepada Kementerian Kesehatan RI untuk merumuskan aturan untuk melarang atau membatasi peredaran rokok elektrik di Indonesia.

Testimoni dari pemilik toko vape, Dimasz, sebagaimana disebutkan dalam Jakarta Globe, bahwa 20% kliennya beralih ke vape sebelum akhirnya berhenti merokok total juga tidak bisa dijadikan bahan rujukan karena sifatnya testimonial dan tidak representatif. Artikel-artikel yang berada di website Ministry of Vape Indonesia (MOVI) dengan konten pembelaan terhadap vape yang menyertakan tautan-tautan jurnal pun, perlu dikritisi.

Masuknya suatu penelitian ke jurnal tidak serta-merta menjadikan isi jurnal tersebut boleh diartikan secara mentah bahwa konklusinya adalah kebenaran mutlak. Artikel ilmiah menyediakan data statistik yang menunjukkan probabilitas terhadap variabel-variabel tertentu dengan metode seobjektif mungkin.

Oleh karena itu, pemakaian artikel/jurnal ilmiah sebagai suatu pendukung harus dipertimbangkan dari berbagai sisi dengan konklusi yang senada.  Sebagai contoh, salah satu jurnal yang disertakan di artikel MOVI untuk menangkal argumen “vape dapat menjadi gerbang menuju penggunaan produk nikotin lainnya”, memperlihatkan bahwa dari 1,304 subjek data penelitian tersebut merupakan mahasiswa di universitas bebas asap rokok, dengan subjek 65.2% wanita, dan hanya 41 orang yang beretnis Asia. Bila dibandingkan dengan keadaan di Indonesia, mungkinkan ada perbedaan konklusi yang didapatkan mengingat subjek yang digunakan adalah mahasiswa di universitas bebas asap rokok? Adakah perbedaan konklusi bila subjek penelitian mayoritas laki-laki? Ini semua perlu dikritisi dan dipertimbangkan untuk diaplikasikan dalam konteks negara kita, Indonesia.

Jika klaim sebagai alternatif berhenti merokok ingin digenggam sebagai argumen menggunakan vape, perlu dilakukan uji klinis bahwa produk e-cigarettes aman dan efektif, karena nyatanya ada juga jurnal ternama, The Lancet, yang menyatakan e-cigarettes (mildly) efektif digunakan untuk berhenti merokok. Namun saat ini, GHI sependapat dengan Stanton Glantz, Direktur Center for Tobacco Control Research and Education di University of California bahwa vapeless toxic’ dari rokok konvensional. GHI tahu dan paham adanya jurnal yang menggunakan kata safer than smoking, namun menurut hemat GHI, mengatakan bahwa vape lebih aman, mempunyai implikasi yang berbeda;  kembali menormalkan kebiasaan mengonsumsi rokok dengan mengaitkan kata vape dan kata aman itu sendiri daripada kata toksik.

“Mendingan gue vape daripada ngerokok,” mencerminkan urgensi perlunya kejelasan posisi Public Health dalam menganggapi keberadaan e-cigarettes. Apakah gerakan pengendalian tembakau yang saat ini berporos pada ‘eliminasi total’ atau ‘membatasinya hingga titik terendah’, dengan kehadiran e-cigarettes kemudian akan merengkuh prinsip harm reduction? Mengingat kematian akibat tembakau di Indonesia mencapai 200,000 jiwa setiap tahun dan banyaknya ketidakpastian terkait risiko maupun dampak jangka panjang dari e-cigarettes, mana yang akan menjadi pilihan kita; menyambut hangat kehadiran e-cigarettes sebagai alternatif dosis nikotin yang less toxic? atau membatasi pergerakannya dengan dingin penuh kecurigaan?

Daftar Pustaka

  1.  https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/457102/Ecigarettes_an_evidence_update_A_report_commissioned_by_Public_Health_England_FINAL.pdf
  2. https://www.sciencenews.org/article/health-risks-e-cigarettes-emerge
  3. http://www.lung.org/stop-smoking/smoking-facts/e-cigarettes-and-lung-health.)
  4. U.S. Department of Health and Human Services. The Health Consequences of Smoking—50 Years of Progress: A Report of the Surgeon General. 2014.
  5. http://www.antaranews.com/berita/483050/bpom-rokok-elektrik-memicu-perokok-baru
  6. http://www.lung.org/stop-smoking/smoking-facts/e-cigarettes-and-lung-health.)
  7. http://jakartaglobe.id/news/smoke-indonesian-e-cig-ban-plan-raises-concerns-collusion/
  8. Bullen C, et al. Electronic cigarettes for smoking cessation: a randomised controlled trial. The Lancet, Volume 382, Issue 9905, 16–22 November 2013, Pages 1614-1616. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0140673613618425.
Iklan

2 thoughts on ““Mendingan gue vape daripada ngerokok.

  1. Tea berkata:

    So masih rancu ya kalo Vape itu better than normal ciggies.
    Temen2 pada ngevape karena alesan “lebih aman” gitu sih. Termasuk sodara gue.
    Jadi mikir berkali2 juga ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s